April 2014
M T W T F S S
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Teori Negosiasi Muka

Teori Negosiasi Muka 

Teori Negosiasi Muka (Face-Negotiation Theory) dikembangkan oleh Stella Ting-Toomey pada tahun 1988. Teori ini memberikan sebuah dasar untuk memperkirakan bagaimana manusia akan menyelesaikan karya muka dalam sebuah kebudayaan yang berbeda. Muka atau rupa mengacu pada gambar diri seseorang di hadapan orang lain. Hal ini melibatkan rasa hormat, kehormatan, status, koneksi, kesetiaan dan nilai-nilai lain yang serupa. Dengan kata lain rupa merupakan gambaran yang anda inginkan atau jati diri orang lain yang berasal dari anda dalam sebuah situasi sosial. Karya muka adalah perilaku komunikasi manusia yang digunakan untuk membangun dan melindungi rupa mereka serta untuk melindungi, membangun dan mengancam muka orang lain.

Teori ini merupakan teori gabungan antara penelitian komunikasi lintas budaya, konflik, dan kesantunan. Teori negosiasi muka memiliki daya tarik dan penerapan lintas budaya karena Stella Ting-Toomey—pencetus teori ini—berfokus pada sejumlah populasi budaya, termasuk Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Cina dan Amerika Serikat. Ting-Toomy menjelaskan bahwa budaya memberi bingkai interpretasi yang lebih besar di mana muka dan gaya konflik dapat diekspresikan dan dipertahankan secara bermakna.

Teori negosiasi muka adalah salah satu dari sedikit teori yang secara eksplisit mengakui bahwa orang dari budaya yang berbeda memiliki bermacam pemikiran mengenai “muka” orang lain. Pemikiran ini menyebabkan mereka menghadapi konflik dengan cara berbeda. Muka merupakan perpanjangan dari konsep diri seseorang, muka telah menjadi fokus dari banyak penelitian di dalam berbagai bidang ilmu.

Ting-toomey mendasarkan banyak bagian dari teorinya pada muka dan facework. Muka merupakan gambaran yang penting dalam kehidupan. Muka juga merupakan sebuah metafora bagi citra diri yang diyakini melingkupi seluruh aspek kehidupan sosial. Konsep ini bermula dari bangsa Cina. Bagi bangsa Cina muka dapat menjadi lebih penting dibandingkan kehidupan itu sendiri. Erving Goffman (1967) juga diakui sebagai sosok yang menempatkan muka dalam penelitian Barat kontemporer. Ia mengamati bahwa muka (face) adalah citra dari diri yang ditunjukkan orang dalam percakapan dengan orang lain. Goffman juga mendeskripsikan muka sebagai sesuatu yang dipertahankan, hilang atau diperkuat. Istilah ini setiap harinya dapat ditemukan dalam bahasa sehari-hari kita dengan penggunaan istilah “tebal muka”, “muka tembok”, jaim (jaga image), muka cemberut, muka kusut, dan lain sebagainya.

Ting-Toomey dan koleganya (Oetzel, Yokochi, Masumoto &Takai, 2000) mengamati bahwa muka berkaitan dengan nilai diri yang positif dan memproyeksikan nilai lain dalam situasi interpersonal. Namun demikian konsep muka ini kajian meluas tidak hanya pada konteks interpersonal namun dalam semua kontkes komunikasi. Seperti halnya bagaimana Presiden SBY—yang terkenal dengan presiden yang sangat menjaga citra—sebelum melakukan pidato, tidak jarang sangat memperhatikan penampilan apakah ia sudah nampak sempurna riasan di wajah, pecinya bahkan dasi atau aksesoris yang dikenakan lainnya. Istilah ini bisa juga bisa digunakan hingga bagaimana kita memakai pada konteks muka sebagai suatu bangsa yang besar (wajah Indonesia atau potret Indonesia).

Ting-Toomey (2004) telah memperluas pemikiran Goffman. Ia menggabungkan beberapa pemikiran dari penelitian mengenai kesantunan yang menyimpulkan bahwa keinginan mengenai muka merupakan keinginan yang universal. Ia juga berpendapat bahwa muka merupakan citra diri seseorang yang diproyeksikan dan merupakan klaim akan penghargaan diri dalam sebuah hubungan. Ia percaya bahwa muka melibatkan penampilan dari bagian depan (front stage) yang beradab kepada individu lain. Dalam hal ini, muka juga merupakan identitas yang didefinisikan oleh dua orang secara bersamaan dalam sebuah konteks komunikasi. Selain itu, muka adalah citra diri yang diakui secara sosial dan isu-isu citra lain yang dianggap penting. Oleh karena itu, muka adalah fenomena lintas budaya, yang artinya semua individu dalam semua budaya memiliki dan mengelola muka; muka melampaui semua budaya.

Keberagaman budaya sangat mempengaruhi cara orang-orang tersebut berkomunikasi. Walaupun muka adalah konsep universal, terdapat berbagai perbedaan yang merepresentasikan budaya mereka masing-masing. Kebutuhan akan muka ada di dalam semua budaya, tetapi semua budaya tidak mengelola kebutuhan muka ini secara sama. Ting-toomey berpendapat bahwa muka dapat diinterpretasikan dalam dua cara: kepedulian akan muka dan kebutuhan akan muka. Kepedulian akan muka (face concern) berkaitan dengan baik muka seseorang maupun muka orang lain. Terdapat kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang lain. Contoh yang bisa dipakai adalah bagai mana ketika kita bertemu dengan orang yang berbeda budaya selalu berusaha menjaga image dan bersikap santun agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Sementara kebutuhan akan muka (face need) merujuk pada dikotomi keterlibatan—otonomi. Contohnya ada sebagian budaya yang tidak suka tergantung kepada orang atau budaya lain, sehingga penampilan atau muka yang tampak bersifat cukek atau tidak peduli dengan orang lain.

Ting-Toomey dipengaruhi oleh penelitian mengenai kesantunan. Teori kesantunan Penelope Brown dan Stephen Levinson (1978) menyatakan bahwa orang akan menggunakan stratei kesantunan berdasarkan persepsi ancaman muka. Para peneliti menemukan dua kebutuhan universal: kebutuhan muka positif dan kebutuhan muka negatif.  Muka positif (positive face) adalah keinginan untuk disukai dan dikagumi oleh orang-orang penting dalam hidup kita. Sedangkan muka negatif (negative face) merujuk pada keinginan untuk memiliki otonomi dan tidak dikekang. Kebutuhan akan muka menjelaskan mengapa seorang mahaiswa yang ingin meminjam catatan temannya tidak akan meminta dengan langsung (“pinjam catatanmu, ya?”), tetapi lebih sering meminta dengan memberikan perhatian kepada keinginan muka negatif seseorang (“apakah bisa saya meminjam catatanmu sebentar? Saya mau fotokopi, dst—sambil memberikan banyak alasan lain).

Ketika muka positif atau negatif para komunikator sedang terancam, mereka cenderung mencari bantuan atau cara untuk mengembalikan muka mereka atau mitra mereka. Ting-Toomey mendefinisikan hal ini sebagai facework, atau tindakan yang diambil untuk menghadapi keinginan akan muka seseorang dan/atau orang lainnya. Stella Ting-Toomey dan Leeva Chung (2005) juga mengemukakan bahwa facework adalah mengenai strategi verbal dan nonverbal yang kita gunakan untuk memelihara, mempertahankan, atau meningkatkan citra diri sosial kita dan menyerang atau mempertahankan (atau menyelamatkan) citra sosial orang lain.

Teori ini dapat diperluas dengan mengidentifikasi tiga jenis facework, seperti dijelaskan oleh Te-Stop dan John Bowers (1991), yaitu: kepekaan, solidaritas dan pujian. Pertama facework ketimbangrasaan (tact facework) merujuk pada batas di mana orang menghargai otonomi seseorang. Facework ini memberikan kebebasan kepada seseorang untuk bertindak sebagaimana ia inginkan. Kedua, facework solidaritas (solidarity facework), berhubungan dengan seseorang menerima orang lain sebagai mana anggota dari kelompok dalam (in-group). Solidaritas meningkatkan hubungan di antara dua orang yang sedang berbicara, maksudnya perbedaan-perbedaan diminimalkan dan kebersamaan ditekankan melalui bahasa informal dan pengalaman-pengalaman yang dimiliki bersama. Ketiga, facework pujian (approbation facework), yang berhubungan peminimalan penjelekan dan pemaksimalan pujian kepada orang lain. Facework ini muncul ketika seseorang mengurangi fokus pada aspek negatif orang lain dan lebih berfokus pada aspek yang positif.

Beberapa asumsi teori Negosiasi Muka mencakup komponen-komponen penting dari teori ini: muka, konflik, dan budaya. Dengan demikian poin-poin berikut menuntun teori dari Ting-Toomey:

  1. Identitas diri penting di dalam interaksi interpersonal, dan individu-individu menegosiasikan identitas mereka secara berbeda dalam budaya yang berbeda.
  2. Manajemen konflik dimediasi oleh muka dan budaya.
  3. Tindakan-tindakan tertentu mengancam citra diri seseorang yang ditampilkan (muka).

Asumsi pertama menekankan pada identits diri (self identity) atau ciri pribadi atau karakter seseorang. Citra ini adalah identitas yang ia harapkan dan ia inginkan agar identitas tersebut diterima orang lain. Identitas diri mencakup pengalaman kolektif seseorang, pemikiran, ide, memori, dan rencana. Identitas diri tidak bersifat stagnan, melainkan dinegosiasikan dalam interaksi dengan orang lain. Orang memiliki kekhawatiran akan identitasnya atau muka (muka diri) dan identitas atau muka orang lain (muka lain). Budaya dan etnis mempengaruhi identitas diri, cara di mana individu memproyeksikan identitas dirinya juga bervariasi dalam budaya yang berbeda.

Para individu di dalam semua budaya memiliki beberapa citra diri berbeda bahwa mereka menegosiasikan citra ini secara terus menerus. Rasa akan diri seseorang merupakan hal yang sadar maupun tidak sadar. Artinya, dalam banyak budaya yang berbeda, orang-orang membawa citra yang mereka presentasikan kepada orang lain secara kebiasaan atau strategis. Bagaimana persepsi rasa akan diri kita dan bagaimana kita ingin orang lain mempersepsi kita merupakan hal yang sangat penting dalam komunikasi.

Asumsi kedua berkaitan dengan konflik, yang merupakan komponen utama dari teori ini. Konflik dapat merusak muka sosial seseorang dan dapat mengurangi kedekatan hubungan antara dua orang. konflik adalah ‘forum” bagi kehilangan muka dan penghiaan terhadap muka. Konflik mengancam muka kedua pihak dan ketika terdapat negosiasi yang tidak berkesesuaian dalam menyelesaikan konflik tersebut (seperti menghina orang lain, memaksakan kehendak, dst), konflik dapat memperparah situasi. Cara manusia disosialisasikan ke dalam budaya mereka dan memengaruhi bagaimana mereka akan mengelola konflik.

Asumsi ketiga berkaitan dengan dampak yang dapat diakibatkan oleh suatu tindakan terhadap muka. Dengan menggabungkan hasil penelitian mengenai kesantunan, Ting-Toomey menyatakan bahwa tindakan yang mengancam muka mengancam baik muka positif maupun muka negatif dari para partisipan. Ada dua tindakan yang menyusun proses ancaman terhadap muka: penyelamatan muka dan pemulihan muka. Pertama, penyalamatan muka (face-saving) mencakup usaha-usaha untuk mencegah peristiwa yang dapat menimbulkan kerentanan atau merusak citra seseorang. Penyelamatan wajah sering kali menghindarkan rasa malu. Pemulihan muka (face restoration) terjadi setelah adanya peristiwa kehilangan muka. Orang akan selalu berusaha untuk memulihkan muka dalam respons akan suatu peristiwa. Misalnya, alasan-alasan yang diberikan orang merupakan bagian dari teknik-teknik pemulihan muka ketika suatu peristiwa memalukan terjadi.

 

Budaya individualistik dan Kolektivistik

Budaya menurut Ting-toomey bukanlah variabel yang statis. Budaya dapat diinterpretasikan melalui banyak dimensi. Budaya dapat diorganisasikan dalam dua kontinum: individualism dan kolektivisme. Budaya individualistis adalah budaya “kemandirian” dan budaya kolektivitik adalah budaya “saling ketergantungan”. Budaya di seluruh dunia beragam dalam hal individualism dan kolektivisme. Kedua dimensi ini memainkan peranan yang penting dalam cara bagaimana facework dan konflik dikelola. Ting-Toomey dan koleganya mengklarifikasi bahwa individualisme dan kolektivisme berlaku tidak hanya pada budaya nasional, melainkan juga pada sub-budaya tertentu.

Individualisme merujuk pada kecenderungan orang untuk mengutamakan identitas individual dibandingkan identitas kelompok, hak individual dibandingkan hak kelompok, dan kebutuhan individu dibandingkan kebutuhan kelompok.  Individualisme adalah identitas “Aku”. Larry Samovar dan Richard poter (2004) percaya bahwa individualisme merupakan suatu pola yang penting di Amerika Serikat. Menurut mereka individualisme menekankan inisiatif individu, kemandirian, ekspresi individu, dan bahkan privasi. Nilai-nilai individualistik menekankan adanya antara lain kebebasan, kejujuran, kenyamanan, dan kesetaraan pribadi.

Individualisme melibatkan motivasi diri, otonomi, dan pemikiran mandiri. Individualisme menyiratkan komunikasi langsung (to the point) dengan orang lain yang sering dikenal dengan budaya komunikasi konteks rendah. Menurut ilmuan lintas budaya, individualisme dianggap penting di amerika Serikat, selain itu ada Australia, Inggris, Kanada, Belanda, dan Selindia Baru. Italia, belgia dan Denmark juga dianggapIndividualistik.

Apabila individualisme berfokus pada identitas personal seseorang, kolektivisme melihat ke luar diri sendiri. Kolektivisme adalah penekanan pada tujuan kelompok dibandingkan tujuan individu, kewajiban kelompok dibandingkan hak individu dan kebutuhan kelompok dibandingkan kebutuhan pribadi. Kolektivisme adalah identitas “Kita”. Orang-orang di dalam budaya kolektivistik menganggap penting berkerja sama den memandang diri mereka sebagai bagian dari kelompok yang lebih besar. Masyarakat kolektivistik mementingkan keterlibatan. Beberapa nilai kolektivistik diantaranya adalah menekankan keselarasan, menghargai keinginan orang tua, dan pemenuhan kebutuhan orang lain.

Kolektivisme menyiratkan komunikasi tidak langsung (lebih banyak basa-basi terlebih dulu), istilah sering dikenal dengan budaya komunikasi konteks tinggi. Contoh-contoh budaya kolektivistik meliputi Indonesia, Vietnam, Kolumbia, Venezuela, Panama, meksiko, Ekuador, dan Guatemala. Negara-negara ini umumnya miskin, bahkan bebeapa kemiskinan yang paling parah ditemukan di negara-negara kategori budaya kolektivistik. Karenanya orang-orang di beberapa budaya ini lebih tidak dituntun oelh aturan dan berfungsi sebagai kelompok lebih karena kebutuhan fisik dan ekonomi.

Ting-Toomey dan Chung (2005) berargumen bahwa anggota-anggota dari budaya yang mengikuti nilai-nilai individualitik cenderung lebih berorientasi pada muka diri, sementara anggota-anggota yang mengikuti nilai yang berorientasi pada kelompok cenderung lebih berorientasi pada muka orang lain atau muka bersama dalam sebuah konflik. Dalam budaya individualistik, manajemen muka (face  manajement) dilakukan secara terbuka yang melibatkan melindungi muka seseorang, bahkan jika harus melakukan tawar-menawar.

Budaya kolektivistik berkaitan dengan kemampuan adaptasi dari citra presentasi diri. Kemampuan beradaptasi memungkinkan munculnya ikatan yang saling tergantung dengan orang lain (muka positif). Maksudnya adalah anggota dari komunitas kolektivistik mempertimbangkan hubungan mereka dengan orang lain ketika mereka mendiskusikan sesuatu dan merasa bahwa suatu percakapan membutuhkan keberlanjutan dari kedua komunikator.

Konflik sering kali ada terjadi ketika anggota-anggota dari kedua budaya yang berbeda—individualistik dan kolektivistik—berkumpul bersama dan bahwa individu-individu akan menggunakan beberapa gaya konflik yang berbeda. Gaya-gaya ini merujuk pada respons yang berpola, atau cara khas untuk mengatasi konflik melintasi berbagai perjumpaan komunikasi. Gaya-gaya ini mencakup menghindar, menurut, berkompromi, mendominasi, dan mengintegrasikan. Dalam menghindar, orang akan berusaha menjauhi ketidaksepakatan dan menghindari pertukaran yang tidak menyenangkan dengan orang lain (“Saya sibuk” atau “Saya tidak ingin membicarakannya”). Gaya menurut mencakup akomodasi pasif yang berusaha memuaskan kebutuhan kebutuhan orang lain atau sepakat dengan saran-saran dari orang lain (“Saya ikut saja” atau “Apapun yang ingin anda lakukan saya tidak keberatan”).

Dalam berkompromi, individu-individu berusaha menemukan jalan tengah untuk mengatasi jalan buntu dan menggunakan pendekatan memberi-menerima sehingga kompromi dapat tercapai (“Saya akan tuda liburan ke Bali, Jika anda mau berkerja sama”). Gaya mendominasi mencakup perilaku-perilaku yang menggunakan pengaruh, wewenang atau keahlian untuk menyampaikan idea tau mengambil keputusan (“Posisi saya akan menentukan masalah ini”). Terakhir gaya mengintegrasikan digunakan untuk menemukan solusi masalah (‘Saya rasa kita harus menyelesaikan ini bersama-sama”). Tidak seperti berkompromi, integrasi membutuhkan perhatian yang tinggi untuk diri anda dan orang lain.

Keputusan untuk menggunakan satu atau lebih dari gaya-gaya ini akan bergantung dari variabilitas budaya dari komunikator. Manajemen konflik juga menganggap penting persoalan muka diri dan muka lain. Sehubungan dengan perbandingan yang melintasi lima budaya (Jepang, Cina, Korea Selatan, Taiwan dan Amerika Serikat), Ting-Toomey dan para kolega dalam penelitiannya (1991) menemukan beberapa hal:

  1. Anggota-anggota dari budaya Amerika Serikat menggunakan lebih banyak gaya mendominasi dalam manajemen konflik.
  2. Orang Taiwan menyatakan bahwa lebih banyak menggunakan gaya mengintegrasikan dalam manajemen konflik.
  3. Orang Cina dan Taiwan menggunakan lebih banyak gaya menurut.
  4. Orang Cina lebih banyak menggunakan tingkat menghindar yang tinggi sebagai gaya konflik dibandingkan kelompok budaya lainnya.
  5. Orang Cina menggunakan tingkat kompromi yang lebih tinggi dari budaya-budaya lainnya.

Penelitian mereka juga menunjukkan bahwa budaya kolektivistik (Cina, Korea dan Taiwan) memiliki tingkat perhatian terhadap muka lain yang lebih tinggi. Dari sini jelaslah bahwa penelitian mengenai muka dan konflik menunjukkan variabilitas budaya memengaruhi bagaimana konflik dikelola.

Dalam budaya kolektivis, keanggotaan dalam kelompok biasanya merupakan sumber utama identitas. Bagi masyarakat Jepang, wajah melibatkan, “kehormatan, kesopanan, kehadiran, dan pengaruh pada orang lain”. Di antara masyarakat Cina, “memperoleh dan kehilangan wajah dekat hubungannya dengan masalah harga diri, martabat, penghingaan, rasa malu, aib, kerendahan hati, kepercaayaan, rasa curiga, rasa hormat dan gengsi”.

Sikap yang berbeda menyangkut apa yang mewakili wajah memiliki pengaruh yang nyata pada bagaimana budaya memandang dan mendekati konflik. Dalam budaya kolektif, konflik dalam kelompok-dalam “dianggap merusak wajah sosial dan keharmonisan hubungan, jadi harus dihindari sedapat mungkin”. Ting-Toomey (dalam Samovar 2010: 260) menyatakan bahwa ketika berhadapan dengan sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik, masyarakat dari budaya kolektivis cenderung menghindar. Di Jepang, memeriksa tagihan atau bon akan mengakibatkan hilangnya wajah karyawan toko atau toko itu sendiri. Masyarakat dari budaya individualistis bagaimanapun, lebih peduli pada wajahnya sendiri dan cenderung menghadapi dan menggunakan pendekatan yang berorientasi pada solusi untuk mengatasi konflik. Di Amerika, memeriksa tagihan atau bon sebelum membayarnya adalah hal yang biasa.

Perilaku berbeda terhadap konflik menimbulkan gaya komunikasi budaya yang cukup berbeda. Selama komunikasi antarbudaya terjadi, gaya yang berlawanan ini dapat menimbulkan kebingungan, kesalahpahaman, atau bahkan kebencian di antara pelaku komunikasi. Hal yang sama juga berlaku pada gaya komunikasi tidak langsung (seperti pada budaya konteks tinggi) dalam rangka mempertahankan hubungan baik dapat menimbulkan efek yang sebaliknya di antara peserta individualistis yang menganggap bahwa interaksi dapat mengancam wajah. Bagi orang Indonesia mungkin menyapa seseorang mungkin suatu bentuk keramah-tamahan, namun belum tentu bagi orang Amerika mungkin itu bisa dimaknai hal yang mengganggu.

 

Teori Pelanggaran Harapan

Teori Pelanggaran Harapan

 

Teori Pelanggaran harapan (Expectacy Violation Theory/EVT) didasarkan pada penelitian Judee Burgoon (1978). Teori ini memandang komunikasi sebagai proses pertukaran informasi tingkat tinggi dalam hal hubungan isi komunikasi. Sehingga teori ini bisa digunakan oleh masing-masing pelaku komunikasi untuk menyerang harapan-harapan pihak lawan bicaranya, baik dalam arti positif mapupun negatif, bergantung kepada suka atau tidak suka para pelaku komunikasi masing-masing.

Satu hal yang penting dari bahasan mengenai komunikasi adalah peranan komunikasi nonverbal. Apa yang kita lakukan dalam sebuah percakapan dapat menjadi lebih penting dari apa yang sebenarnya kita katakan. Untuk memahami komunikasi nonverbal serta pengaruhnya terhadap pesan-pesan dalam sebuah percakapan, Judee Bargoon mengembangkan Teori Pelanggaran Harapan (1978), pada mulanya disebut dengan Teori Pelanggaran Harapan Nonverbal (Nonverbal Expectancy Violations Theory). Tetapi kemudian Bargoon menghapus kata nonverbal karena sekarang teori-teori ini juga mencakup isu-isu di luar area komunikasi nonverbal.

Teori pelanggaran harapan menjelaskan bahwa orang memiliki harapan mengenai perilaku nonverbal orang lain. Perubahan tak terduga yang terjadi dalam jarak perbincangan antara para komunikator dapat menimbulkan suatu perasaan tidak nyaman atau bahkan rasa marah dan sering kali ambigu. Teori ini mengintegrasikan kejadian-kejadian khusus dari komunikasi nonverbal; yaitu, ruang personal dan harapan orang akan jarak ketika perbincangan terjadi.

 

Hubungan Ruang

Ilmu yang mempelajari penggunaan ruang seseorang disebut sebagai proksemik (proxemics). Proksemik membahas tentang cara seseorang menggunakan ruang dalam percakapan mereka dan juga persepsi orang lain akan penggunaan ruang. Mark Knapp dan Judith hall (2002) menjelaskan bahwa penggunaan ruang seseorang dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Penggunaan ruang dapat mempengaruhi makna dan pesan (dalam West & Turner, 2008: 155).

Burgoon (1978) memulai teori ini dari mempelajari interpretasi dari pelanggaran ruang. Ia mulai dari sebuah premis bahwa manusia memiliki dua kebutuhan yang saling bertarung: afiliasi dan ruang pribadi. Ruang Personal (personal space), menurut Bargoon dapat didefinisikan sebagai “sebuah ruang tidak kelihatan dan dapat berubah-ubah yang melingkupi seseorang, yang menunjukkan jarak yang dipilih untuk diambil oleh seseorang terhadap orang lain”. Dalam hal ini, manusia senantiasa memiliki keinginan untuk dekat dengan orang lain, tetapi juga menginginkan adanya jarak tertentu. Hal ini membingungkan, tetapi merupakan dilema yang realistis bagi banyak dari kita.

Teori pelanggaran harapan Burgoon banyak dipengaruhi oleh karya-karya dari seseorang antropolog bernama Edward Hall (1966). Hall mengklaim bahwa terdapat empat zona proksemik-intim, personal, sosial, dan publik. Tiap zona digunakan untuk alasan-alasan yang berbeda. Hall juga memasukkan batasan dari jarak spesial dan perilaku yang sesuai untuk setiap zona.

Jarak Intim, zona ini mencakup perilaku yang ada pada jarak antara 0 sampai 18 inchi (46 sentimeter). Perilaku-perilaku ini termasuk perilaku yang bervariasi mulai dari sentuhan (misalnya, berhubungan intim) hingga mengamati bentuk wajah seseorang. Jarak personal, zona yang berkisar antara 18 inchi (46 sentimeter) – 4 kaki (1,2 meter), digunakan untuk keluarga dan teman. Dalam zona jarak personal, volume suara yang digunakan biasanya sedang, panas tubuh dapat dirasakan, dan bau napas atau bau badan dapat tercium. Jarak Sosial, zona yang berkisar antara 4-12 kaki (1,2 – 3,6 meter), digunakan untuk hubungan-hubungan yang formal seperti hubungan dengan rekan sekerja. Dan Jarak Publik, zona yang berjarak 12 (3,7 meter) kaki atau lebih dan digunakan untuk diskusi yang sangat formal seperti antara dosen dan mahasiswa di dalam kelas.

Disamping itu, ada kewilayahan (territoriality), yaitu kepemilikan seseorang akan sebuah area atau benda. Ada tiga jenis wilayah, yaitu: wilayah primer (primary territories) menunjukkan kepemilikan ekslusif seseorang terhadap sebuah area atau benda, wilayah sekunder (secondary territories) merupakan afiliasi seseorang dengan sebuah area atau benda, dan wilayah publik (public territories) menandai tempat-tempat terbuka untuk semua orang, termasuk pantai dan taman.

Kewilayahan seringkali diikuti dengan pencegahan dan reaksi. Maksudnya orang akan berusaha mencegah anda memasuki wilayah mereka atau akan memberikan respons begitu wilayah mereka dilanggar. Manusia biasanya menandai wilayah mereka dengan empat cara: menandai (menandai wilayah kita), melabeli (memberikan simbol untuk identifikasi), menggunakan tanda atau gambar yang mengancam (menunjukkan penampilan dan perilaku yang agresif), dan menduduki (mengambil tempat terlebih dahulu dan tinggal di sana untuk waktu yang lama dari orang lain).

 

Asumsi Teori Pelanggaran Harapan

Teori ini berakar pada bagaimana pesan-pesan ditampilkan pada orang lain dan jenis-jenis perilaku yang dipilih orang lain dalam sebuah percakapan. Selain itu teori ini juga memiliki asumsi yaitu:

  1. Harapan mendorong terjadinya interaksi antarmanusia. Harapan dapat diartikan sebagai pemikiran dan perilaku yang diantisipasi dalam percakapan dengan orang lain. Termasuk dalam harapan ini adalah perilaku verbal dan nonverbal, karena perilaku seseorang umumnya tidaklah diacak, sebaliknya mereka memiliki berbagai harapan mengenai bagaimana seharusnya orang berpikir dan berperilaku. Harapan sangat terkait erat dengan norma-norma sosial, streotip, rumor, sifat-sifat yang dimiliki komunikator. Sebagai contoh, seseorang yang sedang diwawancarai saat melamar pekerjaan juga diharapkan menjaga jarak yang sesuai menurut pewawancara selama proses wawancara berlangsung. Banyak orang di Amerika Serikat tidak menginginkan orang yang tidak mereka kenal untuk berdiri terlalu dekat atau terlalu jauh dari mereka. Oleh karena itu, perilaku ini bervariasi dari satu orang ke orang lainnya.
  2. Harapan terhadap perilaku manusia dipelajari. Orang mempelajari harapannya melalui budaya secara luas dan juga individu-individu dalam budaya tersebut. Misalnya, budaya Amerika mengajarkan bahwa hubungan antara professor dan mahasiswanya didasari rasa hormat professional. Contoh lain yang sederhana adalah bahwa harapan mahasiswa dan mahasiswi memiliki harapan yang berbeda terhadap dosen mereka.
  3. Orang membuat prediksi mengenai perilaku nonverbal. Keaktraktifan orang lain mempengaruhi evaluasi akan harapan. Dalam percakapan, orang tidak hanya sekedar memberikan perhatian pada apa yang dikatakan oleh orang lain. Namun pada dasarnya, perilaku nonverbal pun mempengaruhi percakapan dan perilaku ini mendorong orang lain untuk membuat prediksi. Sebagai contoh, ketika anda ada di sebuah toko, ada seseorang yang menatap anda dengan tatapan yang lama. Anda mungkin akan merasakan sedikit aneh dengan tatapan orang ini. Akan tetapi, karena anda merasa tertarik dengan orang ini, maka kerikuhan yang muncul berubah menjadi rasa nyaman. Bahkan anda mulai menduga bahwa orang tersebut tertarik dengan anda, karena melihat berkurangnya jarak fisik diantara anda berdua. Contoh ini menggambarkan fakta bahwa anda membuat prediksi (orang itu tertarik pada anda).

Apa yang terjadi ketika harapan kita tidak terpenuhi dalam percakapan dengan orang lain? Ketika orang menjauhi atau menyimpang dari harapan, bagaimana  penyimpangan ini diterima tergantung dari potensi penghargaan dari orang lain. Tidak semua pelanggaran atas perilaku yang diharapkan menimbulkan persepsi negatif. Orang memiliki potensi baik untuk memberikan penghargaan maupun memberikan hukuman dalam percakapan. Selain itu juga orang membawa karakteristik positif maupun negatif dalam sebuah interaksi. Burgoon menyebut ini sebagai valensi penghargaan komunikator (communicator reward valence). Burgoon berpendapat bahwa konsep penghargaan mencakup beberapa karakteristik yang menyebabkan seseorang dipandang positif atau negatif. Menurut teori pelanggaran harapan, interpretasi terhadap pelanggaran seringkali bergantung pada komunikator serta nilai-nilai yang mereka miliki.

Ketika kita sedang berkomunikasi dengan orang lain, dan harapan-harapan kita dilanggar, tentu kita akan bersikap dan bertindak sesuai dengan kondisi dan situasi tertentu. Selain itu kita harus sesuaikan dengan karakter kita selama ini ketika kita berkomunikasi dengan orang lain. Ketika lawan bicara kita melanggar proses komunikasi yang sedang berlangsung, kita akan lihat jenis serangan tersebut. Jika berbentuk dukungan positif sesuai harapan, bersifat argumentasi positif, dan evaluasi yang positif terhadap diri dan pandangan-pandangan kita, tentu itu justru akan menghasilkan pemahaman yang lebih positif lagi. Sebaliknya, jika jenis serangannya mengarah ke hal-hal yang tidak kita harapkan, proses komunikasi tidak akan menghasilkan kesepahaman yang positif.

Contoh kasus dapat sering terjadi di dunia akademis, meskipun ini jarang di sadari. Ketika terjadi proses komunikasi antara mahasiswa dengan staf atau pegawai akademis untuk mendapatkan informasi, mahasiswa sering masuk atau melanggar wilayah yang sudah dibatasi oleh aturan yang berlaku. Atau sang pegawai tidak dapat memberikan informasi yang memuaskan kepada mahasiswa tersebut sesuai harapannya, sehingga membuat si mahaiswa tidak puas, mungkin mengomel, mengumpat.

 

Kajian Budaya

Kajian Budaya

Media telah menjadi alat utama di mana kita semua mengalami atau belajar mengenai banyak aspek mengenai dunia di sekitar kita. Tetapi sering kali cara yang digunakan media dalam melaporkan suatu peristiwa dapat berbeda secara signifikan.

Stuart Hall adalah teoritikus utama dalam kajian budaya. Ia mempertanyakan peranan berbagai institusi elit seperti media dan gambaran mereka yang sering kali salah dan menyesatkan. Tidak seperti teoritikus komunikasi lainnya, Hall berfokus pada peran media dan kemampuannya untuk membentuk opini publik mengenai masyarakat yang termarginalkan, termasuk orang miskin, masyarakat terasing, dan komunitas atau kelompok lainnya. Proses marginalkan melalui media ini sering diperbesar dan berlebihan. Orientasi ini mendasari karyanya dalam kajian budaya (cultural studies).

Kajian budaya adalah perspektif teoritis yang berfokus bagaimana budaya dipengaruhi oleh budaya yang kuat dan dominan. Kajian budaya jauh melampaui media, sering juga disebut kajian khalayak. Kajian budaya berkaitan dengan sikap, pendekatan, dan kritik mengenai sebuah budaya (West & Turner 2008, II:63).

Kajian budaya berkembang di Inggris. Stuart Hall adalah seorang teoritikus budaya dan mantan direktur Center for Contemporary Cultural Studies. Ia menyatakan bahwa media merupakan alat yang kuat bagi kaum elit. Media berfungsi mengomunikasikan cara-cara berpikir yang dominan, tanpa memperdulikan efektivitas pemikiran tersebut. Kajian budaya menekankan bahwa media menjaga agar orang-orang yang berkuasa tetap memiliki kekuasan, sementara yang kurang berkuasa menerima mentah-mentah apa yang diberikan kepada mereka.

Kajian budaya adalah tradisi yang berakar pada tulisan-tulisan filsuf Jerman Karl Marx. Karena prinsip-prinsip Marxis membentuk dasar teori ini. Seperti bagaimana mereka yang memiliki kekuasaan (kaum elit) mengeksploitasi yang lemah (kelas pekerja). Marx percaya bahwa keadaan lemah dapat menuntun pada terjadinya alienasi, atau kondisi psikologis di mana orang mulai merasa bahwa mereka memiliki sedikit kontrol terhadap masa depan mereka.

Para pemikir Marxis yang percaya bahwa kelas pekerja ditekan karena adanya kepemilikan media oleh korporasi disebut sebagai teori Mazhab Frankfurt. Teoritikus mazhab Frankfurt ini percaya bahwa pesan-pesan media dikonstruksi dan disampaikan dengan satu tujuan dalam benak mereka yaitu kapitalisme. Maksudnya, walaupun media dapat saja mengklaim bahwa mereka menyampaikan informasi bagi kebaikan bersama, tujuan utamanya (uang) membingkai tiap pesan.

Beberapa ilmuan menganggap teori ini cenderung lebih neo-Marxis, yang berarti berbeda dari Marxisme klasik. Pertama, tidak seperti Marx, Teoritikus kajian budaya telah mengintegrasikan berbagai macam perspektif ke dalam teori ini, termasuk kesenian, humaniora dan ilmu sosial. Kedua, para teoritikus kajian budaya juga memasukkan kelompok marginal yang tidak memiliki kekuasaan tambahan, tidak terbatas pada pekerja saja. Kelompok-kelompok ini mencakup homoseksual, etnis minoritas, wanita, kaum dengan gangguan kejiwaan, dan bahkan anak-anak. Ketiga, kehidupan sehari-hari bagi Marx berpusat pada pekerjaan dan keluarga. Sedangkan kajian budaya mempelajari kegiatan rekreasi, hobi dan olahraga untuk berusaha memahami bagaimana individu berfungsi di dalam masyarakat. Intinya kajian budaya bergerak melampaui interpretasi mengenai masyarakat yang kaku dan terbatas menuju konsepsi budaya yang lebih luas.

 

Asumsi Kajian Budaya

Kajian budaya tertarik untuk mempelajari bagaimana kelompok elit seperti media menggunakan kekuasaan mereka terhadap kelompok subordinat (bawah). Teori ini berakar pada beberapa klaim penting mengenai budaya dan kekuasaan:

  1. Budaya tersebar dalam dan menginvasi semua sisi perilaku manusia.
  2. Orang merupakan bagian dari struktur kekuasaan yang bersifat hirarkis.

Asumsi pertama berkaitan dengan pemikiran mengenai budaya. Budaya didefinisikan sebagai sebuah komunitas makna. Berbagai norma, ide dan nilai serta bentuk-bentuk pemahaman di masyarakat yang membantu orang untuk menginterpretasikan realitas mereka adalah bagian dari ideologi sebuah budaya. Menurut Hall (1981) ideologi adalah gambaran, konsep dan premis yang menyediakan kerangka pemikiran di mana kita merepresentasikan, menginterpretasikan, memahami dan memaknai beberapa aspek eksistensi sosial. Hall menambahkan bahwa ideologi mencakup bahasa, konsep dan kategori yang dikumpulkan oleh kelompok-kelompok sosial yang berbeda untuk memaknai lingkungan mereka (West & Turner, 2008, II: 65).

Dalam artian luas, praktik-praktik budaya dan institusi memengaruhi ideologi kita. Kita tidak dapat melarikan diri dari kenyataan budaya bahwa sebagai komunitas global, tindakan tidak dilakukan dalam ruang hampa. Graham Murdock (1989) menekankan ketersebaran budaya dengan menyatakan bahwa semua kelompok secara konstan terlibat dalam menciptakan dan menciptakan ulang sistem makna dan memberikan bentuk kepada makna ini dalam bentuk-bentuk ekspresif, praktik-praktik sosial dan institusi-institusi.

Makna di dalam budaya kita dibentuk oleh media. Media dapat dianggap sebagai pembawa pesan berbasis teknologi dari budaya, bahkan media lebih daripada itu. Media menginvasi seluruh ruang kehidupan kita, membentuk selera makan, berpakaian, dan tindakan-tindakan lainnya.

Asumsi kedua dari kajian budaya berkaitan dengan manusia sebagai bagian penting dari sebuah hirarki sosial yang kuat. Kekuasaan bekerja di semua level kehidupan manusia. Walaupun begitu, kekuasaan tidak didasarkan pada peran saja, seperti pada teori penstrukturan adaptif. Sebaliknya Hall tertarik dengan kekuasaan yang dipegang oleh kelompok sosial atau kekuasaan di antara kelompok-kelompok. Makna dan kekuasaan berkaitan erat. Makna tidak dapat dikonseptualisasikan di luar bidang permainan dari hubungan kekuasaan. Dalam tradisi Marxis, kekuasaan adalah sesuatu yang diinginkan oleh kelompok subordinat tetapi tidak dapat dicapai. Sering kali terjadi pergulatan untuk kekuasaan dan pemenangnya biasanya adalah orang yang berada di puncak hirarki sosial. Dalam budaya kita sehari-hari, cantik yang seperti apakah yang sebenarnya? Kecantikan sering kali didefinisikan sebagai langsing, putih, rambut panjang terurai dan penampilan menarik, siapa pun yang tidak sesuai dengan ciri ini dianggap tidak menarik. Mereka yang putih dan langsing—berada di puncak hirarki sosial—mampu menjalankan lebih banyak kekuasaan dibandingkan yang berada di bawah hirarki (mereka yang tidak menarik).

Mungkin sumber kekuatan yang paling mendasar di dalam membentuk cara pandang itu semua dalam masyarakat kita adalah media. Media telah menjadi terlalu kuat dan berkuasa. Tidak ada institusi yang memiliki kekuasaan untuk menentukan apa yang didengar oleh publik kecuali media. Jika media menganggap suatu peristiwa memiliki nilai penting, maka peristiwa tersebut menjadi penting. Suatu peristiwa yang sebenarnya tidak penting, maka ia menjadi tidak penting. Media kita banyak menyajikan informasi gosip dalam bentuk infotainment, isi memang tidak penting tetapi ia banyak menghasilkan uang karena pemirsanya yang banyak.

Hegemoni merupakan konsep penting dalam kajian budaya. Secara umum hegemoni didefinisikan sebagai pengaruh, kekuasaan, atau dominasi dari sebuah kelompok sosial terhadap yang lain. Ide ini adalah ide yang kompleks dan dapat dilacak pada karya Antonio Gramsci. Pemikiran Gramsci mengenai hegemoni didasarkan pada ide Marx mengenai kesadaran palsu, suatu keadaan di mana individu-individu menjadi tidak sadar mengenai dominasi yang terjadi di dalam kehidupan mereka. Gramsci berpendapat bahwa khalayak dapat dieksploitasi oleh sistem sosial yang juga mereka dukung. Mulai dari budaya popular—lagu-lagu pop, tarian atau dance, makanan, dst., hingga agama.

Penerapan pemikiran Gramsci mengenai hegemoni juga cukup sesuai untuk diaplikasikan pada masyarakat di masa kini. Di bawah sebuah budaya yang hegemonis, beberapa orang mendapatkan keuntungan, sementara yang lainnya merugi. Apa yang terjadi di dalam masyarakat hegemonis adalah orang terpengaruh karena adanya persetujuan, bukan karena pemaksaan, oleh karena itu, persetujuan merupakan komponen utama dari hegemoni. Tidak heran bila orang cenderung mendukung dengan patuh ideologi dominan dari sebuah budaya.

Namun demikian, khalayak tidaklah selalu tertipu untuk menerima dan mempercayai apa pun yang diberikan oleh kekuatan yang dominan. Terkadang khalayak juga menggunakan sumber daya dan strategi yang sama seperti yang digunakan oleh kelompok sosial yang dominan. Hingga batasan tertentu, individu-individu akan menggunakan praktik-praktik dominasi hegemonis yang sama menentang dominasi yang ada. Inilah yang disebut Gramsci sebagai hegemoni tandingan (counter-hegemony).

Hegemoni tandingan menjadi bagian penting dalam pemikiran kajian budaya karena hal ini menunjukkan bahwa khalayak tidak selamanya akan menurut. Dengan kata lain, kita sebagai khalayak tidak selamanya bodoh dan pasif. Pesan-pesan hegemoni tandingan, ironisnya, sering muncul juga di dalam program-program televisi yang sifatnya mengkritisi atau pelencengan makna pesan yang sebenarnya, seperti program acara televisi ‘Democrazy”, “Senitlan-Sentilun”, dan lainnya .

Tidak ada pesan hegemoni atau hegemoni tandingan  yang dapat muncul tanpa kemampuan kahalayak untuk menerima pesan dan membandingkannya dengan makna yang telah tersimpan di dalam benak mereka. Hal ini disebut pengkodean (decoding), konsep terakhir kajian budaya. Ketika kita menerima pesan dari orang lain, kita mendekodekan pesan-pesan tersebut berdasarkan persepsi, pemikiran, dan pengalaman masa lalu kita. Bila publik menerima informasi dalam jumlah yang besar dari kaum elit dan bahwa orang secara tidak sadar mentaati pesan yang disampaikan oleh ideologi dominan. Publik harus dilihat sebagai bagian dari konteks budaya yang lebih besar, konteks dimana mereka berjuang menyarakan diri mereka sedang ditindas. Sebagaimana sudah dijelaskan, relasi sosial hirarkis (antara atasan/elit dan pekerja/bawahan) yang ada di masyarakat tidaklah merata. Ketidakmerataan dan ketidaksamaan ini mengakibatkan perbedaan dalam pendekodean terhadap pesan-pesan dari kelas yang berkuasa. Secara umum media mewakili kelas yang berkuasa dalam masyarakat.

Dalam hal ini, Hall (1980) menjelaskan lebih lanjut pendekodean berlangsung di dalam media. Ia melihat bahwa seorang khalayak melakukan pendekodean terhadap pesan melalui tiga sudut pandang atau posisi: dominan-hegemonis, ternegosiasi, dan oposisi.

Individu-individu bekerja di dalam sebuah kode yang mendominasi dan menjalankan kekuasaan yang lebih besar daripada yang lainnya disebut posisi dominan-hegemonis. Kode professional untuk seorang penyiar televisi, misalnya, akan selalu bekerja di dalam hegemoni kode yang lebih dominan. Dalam hal ini media berusaha meyakinkan bahwa kode professional mereka ditempatkan di dalam kode budaya dominan mengenai makna yang lebih luas. Pada kode ini khalayak cenderung menerima pesan secara pasif, menerima apa adanya.

Posisi kedua adalah posisi ternegosiasi; anggota khalayak dapat menerima ideologi dominan tetapi akan bekerja dengan beberapa pengecualian terhadap aturan budaya. Dalam hal ini, anggota khalayak selalu memiliki hak untuk menerapkan kondisi lokal kepada peristiwa sekala besar. Dalam posisi ini, khalayak memaknai pesan dengan menegosiasikan pada konteks-konteks tertentu, apakah menerima atau menolak pesannya.

Cara terakhir yang digunakan khalayak untuk melakukan pendekodean terhadap pesan adalah dengan telibat di dalam posisi oposisional. Posisi oposisional terjadi ketika anggota khalayak mensubstitusikan kode alternatif bagi kode yang disediakan oleh media. Oleh karena itu, pada kasus ini konsumen yang kritis akan menolak makna sebuah pesan yang dipilih dan ditentukan oleh media dan menggantikannya dengan pemikirannya sendiri mengenai subjek tertentu.

Media seringkali membingkai pesan-pesan dengan maksud tersembunyi untuk mempengaruhi. Anggota khalayak memiliki kapasitas untuk menghindari tertelan oleh ideologi yang lebih dominan. Namun demikian, pesan-pesan media yang diterima oleh khalayak sering kali merupakan bagian dari kampanye yang lebih tidak kentara. Para teoritikus dalam kajian budaya tidak menyatakan bahwa orang sangat mudah untuk dipengaruhi, melainkan mereka sering kali secara tidak sadar menjadi bagian dari agenda orang lain.

 

 

 

Teori Pemikiran Kelompok (Groupthink Theory)

Teori Pemikiran Kelompok (Groupthink Theory)

 

 

Latar Belakang Teori

Teori Pemikiran Kelompok (groupthink) lahir dari penelitian panjang Irvin L Janis. Janis menggunakan istilah groupthink untuk menunjukkan satu mode berpikir sekelompok orang yang sifat kohesif (terpadu), ketika usaha-usaha keras yang dilakukan anggota-anggota kelompok untuk mencapai kata mufakat. Untuk mencapai kebulatan suara klompok ini mengesampingkan motivasinya untuk menilai alternatif-alternatif tindakan secara realistis. Grouptink dapat didefinisikan sebagai suatu situasi dalam proses pengambilan keputusan yang menunjukkan timbulnya kemerosotan efesiensi mental, pengujian realitas, dan penilaian moral yang disebabkan oleh tekanan-tekanan kelompok (Mulyana, 1999).

West dan Turner (2008: 274) mendefinisikan bahwa pemikiran kelompok (groupthink) sebagai suatu cara pertimbangan yang digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui motivasi mereka untuk menilai semua rencana tindakan yang ada. Jadi groupthink merupakan proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, dimana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya tidak efektif lagi.

Anggota-anggota kelompok sering kali terlibat di dalam sebuah gaya pertimbangan dimana pencarian konsensus lebih diutamakan dibandingkan dengan pertimbangan akal sehat. Anda mungkin pernah berpartisipasi di dalam sebuah kelompok dimana keinginan untuk mencapai satu tujuan atau tugas lebih penting daripada menghasilkan pemecahan masalah yang masuk akal. Kelompok yang memiliki kemiripan antaranggotanya dan memiliki hubungan baik satu sama lain, cenderung gagal menyadari akan adanya pendapat yang berlawanan. Mereka menekan konflik hanya agar mereka dapat bergaul dengan baik, atau ketika anggota kelompok tidak sepenuhnya mempertimbangkan semua solusi yang ada, mereka rentan dalam groupthink.

Dari sini, groupthink meninggalkan cara berpikir individu dan menekankan pada proses kelompok. Sehingga pengkajian atas fenomena kelompok lebih spesifik terletak pada proses pembuatan keputusan yang kurang baik, serta besar kemungkinannya akan menghasilkan keputusan yang buruk dengan akibat yang sangat merugikan kelompok. Janis juga menegaskan bahwa kelompok yang sangat kompak  dimungkinkan karena terlalu banyak menyimpan energi untuk memelihara niat baik dalam kelompok ini, sehingga mengorbankan proses keputusan yang baik dari proses tersebut. adapun proses dalam pembuatan keputusan dalam kelompok, secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:

Esensi Teori

Groupthink merupakan teori yang diasosiasikan dengan komunikasi kelompok kecil. Lahirnya konsep groupthink didorong oleh kajian secara mendalam mengenai komunikasi kelompok yang telah dikembangkan oleh Raimond Cattel (Santoso & Setiansah, 2010:66). Melalui penelitiannya, ia memfokuskannya pada keperibadian kelompok sebagai tahap awal. Teori yang dibangun menunjukkan bahwa terdapat pola-pola tetap dari perilaku kelompok yang dapat diprediksi, yaitu:

1.      Sifat-sifat dari kepribadian kelompok

2.      Struktural internal hubungan antar anggota

3.      Sifat keanggotaan kelompok.

Temuan teoritis tersebut masih belum mampu memberikan jawaban atas suatu pertanyaan yang berkaitan dengan pengaruh hubungan antar pribadi dalam kelompok. Hal inilah yang memunculkan suatu hipotesis dari Janis untuk menguji beberapa kasus terperinci yang ikut memfasilitasi keputusan-keputusan yang dibuat kelompok.

Hasil pengujian yang dilakukan Janis menunjukkan bahwa terdapat suatu kondisi yang mengarah pada munculnya kepuasan kelompok yang baik. Asumsi penting dari groupthink, sebagaimana dikemukakan Turner dan West (2008: 276) adalah:

1.      Terdapat kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mekmpromosikan kohesivitas tinggi.

2.      Pemecahan masalah kelompok pada intinya merupakan proses yang menyatu

3.      Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok sering kali bersifat kompleks

Perhatikan kisah di awal, upaya LSM Bumi Hijau membangun kohesivitas berimplikasi pada pengabaian pendapat personal yang bisa jadi pendapatnya lebih rasional. Kohesivitas ini dibangun atas semangat perjuangan bersama, semangat pengabdian melalui sebuah lembaga nonpemerintah.

Hasil akhir dari analisis Janis menunjukkan beberapa dampak negatif dari pikiran kelompok dalam membuat keputusan, yaitu.

a.       Diskusi amat terbatas pada beberapa alternatif keputusan saja

b.      Pemecahan masalah yang sejak semula sudah cenderung dipilih, tidak lagi dievaluasi atau dikaji uang

c.       Alternatif pemecahan masalah yang sejak semula ditolak, tidak pernah dipertimbangkan kembali

d.      Tidak pernah mencari atau meminta pendapat para ahli dalam bidangnya.

e.       Kalau ada nasehat atau pertimbangan lain, penerimaannya diseleksi karena ada bias pada pihak anggota.

f.       Cenderung tidak melihat adanya kemungkinan-kemungkinan dari kelompok lain akan melakukan aksi penantangan, sehingga tidak siap melakukan antisipasinya.

g.      Sasaran kebijakan tidak disurvai dengan lengkap dan sempurna.

Ilustrasi Janis selanjutnya mengungkapkan kondisi nyata suatu kelompok yang dihinggapi oleh pikiran kelompok, yaitu dengan menunjukkan delapan gejala perilaku kelompok sebagai berikut:

1.      Persepsi yang keliru (illusions), bahwa ada keyakinan kalau kelompok tidak akan terkalahkan.

2.      Rasionalitas kolektif, dengan cara membenarkan hal-hal yang salah sebagai seakan-akan masuk akal.

3.      Percaya pada moralitas terpendam yang ada dalam diri kelompok.

4.      Streotip terhadap kelompok lain (menganggap buruk kelompok lain).

5.      Tekanan langsung pada anggota yang pendapatnya berbeda dari pendapat kelompok.

6.      Sensor diri sendiri terhadap penyimpangan dari sensus kelompok.

7.      Ilusi bahwa semua anggota kelompok sepakat dan bersuara bulat.

8.      Otomatis menjaga mental untuk mencegah atau menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung, hal ini dilakukan oleh para penjaga pikiran kelompok (mindguards).

 

Berdasarkan penelitian yang berkembang pada periode selanjutnya, ada beberapa hipotesis mengenai faktor-faktor determinan yang terdapat pada pikiran kelompok.

a.       Faktor antesenden.

Kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk meningkatkan pikiran kelompok, maka keputusan yang dibuat oleh kelompok akan bernilai buruk. Akan tetapi kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk mencegah pikiran kelompok, maka keputusan yang akan dibuat oleh kelompok akan bernilai baik.

b.      Faktor kebulatan suara

Kelompok yang mengharuskan suara bulat justru lebih sering terjebak dalam pikiran kelompok, dari pada yang menggunakan sistem suara terbanyak.

c.       Faktor ikatas sosial-emosional

Kelompok yang ikatan sosial emosionalnya tinggi cenderung mengembangkan pikiran kelompok. Sedangkan kelompok yang ikatannya lugas dan berdasarkan tugas belaka cenderung lebih rendah pikiran kelompoknya.

d.      Toleransi terhadap kesalahan

Pikiran kelompok lebih besar kalau kesalahan-kesalahan dibiarkan dari pada tidak ada toleransi atas kesalahan-kesalahan yang ada.

Kajian groupthink menemukan fakta menarik bahwa banyak peristiwa penting yang berdampak luas disebabkan oleh keputusan sekelompok kecil orang, yang mengabaikan informasi dari luar mereka. Misalnya dalam peristiwa Pearl Harbour (1941), keputusan fatal diambil karena mengabaikan informasi penting intelejen sebelumnya. Minggu-minggu menjelang penyerangan Pearl Harbour di bulan Desember 1941 yang menyebabkan Amerika Serikat terlibat Perang Dunia II, komandan-komandan militer di Hawaii sebetulnya telah menerima laporan intelejen tentang persiapan Jepang untuk menyerang Amerika Serikat di suatu tempat di Pasifik. Akan tetapi para komandan memutuskan untuk mengabaikan informasi itu. Akibatnya, Pearl Harbour sama sekali tidak siap untuk diserang. Tanda bahaya tidak dibunyikan sebelum bom-bom mulai meledak. Walhasil, perang mengakibatkan 18 kapal tenggelam, 170 pesawat udara hancur dan 3700 orang meninggal.

Berdasarkan gejala-gejala yang ada, umumnya kelompok yang memiliki semangkin banyak gejala yang ada ia akan semakin tidak baik. Para anggota kelompok akan memberikan penilaian yang berlebihan terhadap kelompoknya seperti kelompoknyalah yang paling benar. Selain itu kelompok pemikiran individu akan tertutup oleh pemikiran kelompok. Ketika suatu kelompok memiliki pikiran yang tertutup, kelompok ini tidak akan mengindahkan pengaruh-pengaruh dari keluar kelompok. Akan selalu ada tekanan untuk mencapai keseragaman, adanya ilusi bahwa akan adanya kebulatan suara meskipun pada dasarnya ada di antara kelompok yang tidak mendukung. Untuk mengatasi gejala-gejala pemikiran kelompok seperti itu adalah dengan lebih banyak berpikir sebelum bertindak. Banyak contoh kasus peristiwa komunikasi yang bisa dilihat dari teori ini diantaranya adalah: ngototnya kepengurusan PSSI yang dipimpin oleh Nurdin Halid untuk tidak mau mundur dari PSSI. Kelompok pendukungnya akan selalu memiliki argumen-argumen yang selalu dilandasi oleh pemikiran kelompok.

 

Teori Manajemen Privasi Komunikasi

TEORI MANAJEMEN PRIVASI KOMUNIKASI

 

Teori Manajemen Privasi Komunikasi (Communication Privacy Management - CPM) dikembangkan oleh Sandra Petronio (2002). Ia menyatakan bahwa CPM adalah teori praktis yang didesain untuk menjelaskan isu-isu “keseharian” seperti yang digambarkan dalam kegiatan kita sehari-hari. Ketika kita bertemu dengan berbagai macam orang dalam kehidupan – rekan sekerja, teman sekelas, anggota keluarga, teman sekamar, dan seterusnya – kita terlibat di dalam negosiasi kompleks antara privasi dan keterbukaan. Memutuskan apa yang akan diungkapkan dan apa yang harus dirahasiakan bukanlah keputusan yang dapat langsung diambil, melainkan merupakan tindakan penyeimbangan yang berlangsung secara terus-menerus.

Kita berusaha untuk menimbang tuntutan-tuntutan situasi dengan kebutuhan kita dan orang lain yang ada disekitar kita. Privasi merupakan hal yang penting bagi kita karena hal ini memungkinkan kita untuk merasa terpisah dari orang lain. Hal ini memberikan kita perasaan bahwa kita adalah pemilik sah dari informasi mengenai diri kita. Ada risiko yang dapat muncul dari pembukaan kepada orang yang salah, membuka diri pada saat yang tidak tepat, mengatakan terlalu banyak tentang diri kita sendiri, atau berkompromi dengan orang lain. Di lain pihak, pembukaan dapat memberikan keuntungan yang besar, kita dapat meningkatkan kontrol sosial, memvalidasi perspektif kita, dan menjadi lebih intim dengan pasangan kita dalam suatu hubungan ketika kita membuka diri. Keseimbangan antara privasi dan pembukaan memiliki makna karena hal ini  sangat penting terhadap cara kita mengelola hubungan-hubungan kita.

Munculnya teori manajemen privasi komunikasi ini menarik karena tiga alasan. Yang pertama, teori ini adalah pemikiran yang terkini dalam disiplin ilmu komunikasi. Munculnya teori baru memberikan gambaran akan hidupnya komunikasi sebagai bidang ilmu. Kedua, fakta bahwa CPM bertumbuh secara khusus dari fokus terhadap komunikasi. Ini bukti akan kematangan dan pertumbuhan bidang ilmu komunikasi.

 

Evolusi Teori Manajemen Privasi Komunikasi

Dua puluh tahun yang lalu, Petronio dan koleganya menerbitkan penelitian pada tahun 1984 & 1986 yang menggambarkan prinsip-prinsip yang kemudian akan menjadi bagian dari CPM. Dalam penelitian-penelitian ini para peneliti tertarik akan kriteria dalam pembentukan aturan dalam sistem manajemen aturan bagi pembukaan. Mereka mengamati bahwa pria dan wanita memiliki kriteria yang berbeda untuk menilai kapan harus terbuka dan kapan harus diam.

Pada tahun 1991, Petronio menerbitkan usaha pertamanya untuk mengorganisasikan semua prinsip-prinsip dari teori ini. Karyanya ini kemudian berbeda dengan konseptualisasinya yang muncul belakangan dalam dua hal. Yang pertama, teori yang memiliki batasan yang lebih sempit ditahun 1991. Pada saat itu, Petronio menyebut hal ini sebagai mikroteori karena batasannya hanya sampai pada manajemen privasi pada pasangan yang menikah. Sekarang Petronio menyebut CPM sebagai makroteori karena sekarang batasannya melingkupi berbagai macam hubungan yang lebih luas termasuk dalam kelompok dan organisasi.

Perubahan kedua ini adalah perubahan nama. Di tahun 1991, Petronio menyebut teori ini Teori Batasan Komunikasi (Communication Boundary Management). Ia menerbitkan karyanya yang lebih lengkap mengenai teori ini dalam bukunya pada tahun 2002, ia menamainya Teori Manajemen Privasi Komunikasi (Communication Privacy Management Theory). Petronio menjelaskan bahwa nama baru lebih merefleksikan fokus terhadap pembukaan pribadi.

 

Asumsi CPM

Teori manajemen privasi komunikasi berakar pada asumsi-asumsi mengenai bagaimana seorang individu berpikir dan berkomunikasi sekaligus asumsi-asumsi mengenai sifat dasar manusia. Yang pertama, CPM menganut aspek-aspek peraturan dan sistem metateori. Dengan adanya dasar metateoritis ini, teori ini membuat tiga asumsi mengenai sifat dasar manusia :

  1. Manusia adalah pembuat keputusan
  2. Manusia adalah pembuat peraturan dan pengikut peraturan.
  3. Pilihan dan peraturan manusia didasarkan pada pertimbangan akan orang lain dan juga konsep diri.
  4. Hidup berhubungan dicirikan oleh perubahan.
  5. Kontradiksi adalah fakta mendasar pada hidup berhubungan.

Menurut Petronio manusia membuat pilihan dan peraturan mengenai apa yang harus dikatakan dan apa yang harus disimpan dari orang lain yang didasarkan pada kriteria penting di antaranya seperti budaya, gender, dan konteks. Teori CPM ini merupakan teori yang mendukung asumsi yang dimiliki teori dialektika relasional.

Teori Manajemen privasi komunikasi (CPM) tertarik untuk menjelaskan proses-proses negosiasi orang seputar pembukaan informasi privat. Teori ini tidak membatasi proses ini hanya kepada diri, tetapi memperluas mencakup banyak level pembukaan termasuk kelompok dan organisasi. Untuk mencapai tujuan ini, teori CPM mengajukan lima asumsi dasar: informasi privat, batasan privat, kontrol dan kepemilikan, sistem manajemen berdasarkan aturan, dan dialektika manajemen.

Informasi Privat

Asumsi yang pertama, informasi privat merujuk pada cara tradisional untuk berpikir mengenai pembukaan. Ini merupakan informasi mengenai hal-hal yang sangat berarti bagi seseorang yang sifatnya privat. Isi dari pembukaan memungkinkan kita untuk menguraikan konsep-konsep mengenai privasi dan keintiman dan mempelajari bagaimana mereka saling berhubungan. Keintiman adalah perasaan atau keadaan seseorang secara mendalam dalam cara-cara fisik, psikologi, emosional, dan prilaku karena orang ini penting dalam kehidupan seseorang. Keintiman adalah keadaan merasa mengetahui seseorang secara mendalam dalam segala hal karena orang ini penting didalam kehidupan seseorang.

 

Batasan Privat

Asumsi yang kedua adalah batasan privat (private boundaries). CPM bergantung pada metafora batasan untuk menjelaskan bahwa terdapat garis antara bersikap publik dan bersikap privat. Ketika informasi privat dibagikan batasan disekelilingnya disebut batasan kolektif (collective boundary), dan informasi itu tidak hanya mengenai diri; informasi ini menjadi milik hubungan yang ada. Ketika informasi privat tetap disimpan oleh seorang individu dan tidak dibuka, maka batasannya disebut batasan personal (personal boundary).

 

Kontrol dan Kepemilikan

Asumsi yang ketiga berkaitan dengan kontrol dan kepemilikan. Asumsi ini bergantung pada ide bahwa orang merasa mereka memiliki informasi privat mengenai diri mereka sendiri. Sebagai pemilik informasi ini, mereka percaya bahwa mereka harus ada dalam posisi untuk mengontrol siapa saja (jika memang ada) yang boleh mengakses informasi ini.

 

Sistem Manajemen Berdasarkan Aturan

Asumsi yang keempat dari teori CPM adalah sistem manajemen berdasarkan aturan. Sistem ini adalah kerangka untuk memahami keputusan yang dibuat orang mengenai informasi privat. Sistem manajemen berdasarkan aturan memungkinkan pengelolaan pada level individual dan kolektif serta merupakan pengaturan rumit yang terdiri atas tiga proses: karateristik aturan privasi, koordinasi batasan, dan turbulensi batasan.

 

Dialektika Manajemen

Asumsi yang kelima, dialektika manajemen privasi, berfokus pada ketegangan-ketegangan antara keinginan untuk mengungkapkan informasi privat dan keinginan untuk menutupinya. Tesis dasar dari teori ini didasarkan pada kesatuan dialektika, yang merujuk pada ketegangan-ketegangan yang dialami oleh orang sebagai akibat dari oposisi dan kontradiksi.

Asumsi yang keempat, sistem manajemen berdasarkan aturan, bergantung pada tiga proses manajemen aturan privasi: karakteristik aturan privasi, koordinasi batasan, dan turbulensi batasan. Teori ini menyatakan bahwa hal-hal ini mengatur proses pengungkapan dan penutupan informasi privat.

Pertama, Karakteristik Aturan Privasi. Karakteristik aturan privasi adalah salah satu proses di dalam sistem manajemen aturan privasi, yang mendeskripsikan sifat dasar dari aturan privasi. Karakteristik ini memiliki dua fitur utama yaitu pengembangan aturan dan atribut.

Kedua, Koordinasi Batasan. Proses yang kedua yang terdapat dalam sistem manajemen berdasarkan aturan adalah koordinasi batasan (boundary coordination), yang merujuk pada bagaimana kita mengelola informasi yang dimiliki bersama. Pertalian batasan (boundary linkage) merujuk pada hubungan yang membentuk aliansi batasan antar individu. Kepemilikan batasan (boundary ownership) merujuk pada hak-hak dan keistimewaan yang diberikan kepada pemilik pendamping (co-owner) dari sebuah informasi privat. Terakhir koordinasi batasan dicapai melalui permeabilitas batasan (boundary permeability) yang merujuk pada seberapa banyak informasi dapat melalui batasan yang ada. Ketika akses terhadap suatu informasi privat ditutup, batasannya disebut sebagai batasan tebal (batasan tertutup yang memungkinkan sedikit atau tidak ada informasi yang dapat lewat, sedangkan ketika aksesnya terbuka, batasannya disebut sebagai batasan tipis (batasan terbuka yang memungkinkan semua informasi lewat).

Keempat, Turbulensi Batasan. Turbulensi batasan (boundary turbulence) muncul ketika aturan-aturan koordinasi batasan tidak jelas atau ketika harapan orang untuk manajemen privasi berkonflik antara satu dengan yang lainnya. Kasus yang mungkin dalam turbulensi batasan adalah bocornya suatu rahasia seseorang atau organisasi ke pihak atau orang lain.

 

 

 

Teori Interaksi Simbolik

Teori Interaksionisme Simbolik

 

Pernikahan Heny dan Saiful nyaris gagal. Pemicunya sebenarnya hal spele, beberapa untai kalimat dalam telepon terakhir Heny sebelum hari pernikahan. “Mas, keluargaku minta, besok saat resepsi di hotel, dari keluarga Mas Saiful jangan membawa anak-anak.” Itu yang disampaikan Heny , pangkal suasana panas di keluarga Saiful. Lidah Saiful kelu, hatinya kacau tidak karuan, ketika berhadapan dengan sidang mendadak keluarga besarnya, seusai menyampaikan pesan calon istrinya itu.

“Kita memang dari keluarga miskin, tapi kita punya harga diri,” suara ayah Saiful meninggi. “Calon mertuamu terlalu sombong, besok aku tidak akan datang!” tegas sang ayah. “Aku ikut ayahmu,” timpal ibu Saiful. Suasana tambah hening, menegangkan. Semua pandangan mata tajam menyorot muka Saiful yang tertunduk lesu.

Ancaman ayah Saiful bukan gertakan semata. Keluarga besar Heny mulai gelisah. Pukul 09.30, pada hari ‘H’ pernikahan, semua tamu telah berkumpul, tapi Saiful dan keluarga besarnya belum juga kelihatan. Sesuai jadwal, semestinya akad nikah dilangsungkan pukul 09.00. Tepat pukul 10.00, sebuah mobil berhenti, Saiful keluar dengan langkah gontai. Tak ada anggota kelurarga yang menyertainya. “Maaf, bapak dan ibu nggak bisa datang” ungkap Saiful singkat. Raut malu dan sedih tidak bisa ditutupinya.

Untunglah petugas KUA bertindak sigap. “Pernikahannya bisa dimulai sekarang?” Tanya Pak Ahmad Mashudi, memecah ketegangan. “Silakan Pak,” itu saja jawaban ayah Heny lirih. Akad nikah pun berjalan lancar, begitu pula resepsi pernikahan beberapa jam sesudahnya. Tetapi, setiap tamu yang hadir menyimpan pertanyaan: kenapa tak seorang pun keluarga Saiful kelihatan dalam acara sepenting itu.

 

 

Keluarga Heny dan Saiful memiliki latarbelakang yang berbeda. Keluarga Heny adalah tipikal keluarga kelas atas yang tinggal di perkotaan. Mereka terbiasa dengan hidup yang praktis, efesien, dan mengagungkan gengsi. Mereka bukannya tidak suka anak, tetapi mereka tak menginginkan kehadiran anak-anak kampung, yang tidak hanya membuat gaduh dan kotor tetapi juga berpotensi menurunkan gengsi keluarga. Anak-anak ini memang representasi keluarga Saiful, yang tinggal di perkampungan. Ayah Saiful adalah seorang petani, ibunya pedagang kelapa di pasar kampung. Mereka memang hanya tamat SD, tetapi sangat mencintai pendidikan. Keempat anaknya disekolahkan hingga perguruan tinggi. Saiful adalah anak ketiga, lulusan fakultas Teknik PTN terkemuka. Saiful kini berkerja sebagai konsultan  arstektur sebuah lembaga konsultan teknik asal Singapura. Sebagaimana orang desa umumnya, keluarga besar Saiful terbiasa hidup komunal. Mereka sangat mencintai keluarga dan persaudaraan. Mereka adalah tipikal penganut “mangan ora mangan asal kumpul”. Apapun kondisinya, bagi mereka, kebersamaan adalah segalanya.

Dua keluarga di atas memiliki pemaknaan yang berbeda terhadap pesta pernikahan, karenanya mereka berbeda sikap atas kehadiran anak-anak. Makna dan tindakan, inilah salah satu fokus teori interaksionisme simbolik.

 

Latarbelakang Teori

Teori interaksionisme simbolik mewarisi tradisi dan posisi intelektual yang berkembang di Eropa pada abad 19 kemudian menyeberang ke Amerika terutama di Chicago. Sebagian pakar berpendapat, teori interaksionisme simbolik dikembangkan oleh George Herbert Mead. Namun terlebih dahulu dikenal dalam lingkup sosiologi interpretatif yang berada di bawah payung teori tindakan sosial (action theory) yang dikemukakan oleh filosof dan sekaligus sosiolog besar Max Weber (1864 – 1920).

Meskipun teori interaksi simbolik tidak sepenuhnya mengadopsi teori Weber namun pengaruh Weber cukup penting. Salah satu pandangan Weber yang dianggap relevan dengan pemikiran Mead, bahwa tindakan sosial bertindakan jauh, berdasarkan makna subjektifnya yang diberikan individu-individu. Tindakan itu mempertimbangkan perilaku orang lain dan karenanya diorientasikan dalam penampilan.

Dalam perkembangan selanjutnya teori interaksionisme simbolik ini dipengaruhi beberapa aliran di antaranya mashab Chicago, Mazhab Iowa, pendekatan dramaturgis dan etnometodologi serta banyak diilhami pandangan filsafat, khususnya pragmatisme dan behaviorisme.

Aliran pragmatisme yang dirumuskan oleh John Dewey, William James Charles Pierce dan Josiah Royce mempunyai beberapa pandangan. Pertama, realitas sejati tidak pernah ada di dunia nyata, melainkan secara aktif diciptakan ketika kita bertindak terhadap dunia. Kedua, manusia mengingat dan melandaskan pengetahuan mereka tentang dunia pada apa yang terbukti berguna bagi mereka. Ketiga, manusia mendefinisikan objek fisik dan objek sosial yang mereka temui berdasarkan kegunaannya bagi mereka termasuk tujuan mereka. Keempat, bila kita ingin memahami orang yang melakukan tindakan (actor), kita harus berdasarkan pemahaman itu pada apa yang sebenarnya mereka lakukan di dunia. Sementara aliran behaviorisme yang dipelopori Watson berpendapat bahwa manusia harus dipahami berdasarkan apa yang mereka lakukan (Mulyana, 2001: 64).

Sebagai pencetus teori interaksionisme simbolik, George H. Mead, pada awalnya Mead memang tidak pernah menerbitkan gagasannya secara sistematis dalam sebuah buku. Para mahasiswanya lah yang setelah kematian Mead kemudian menerbitkan pemikiran Mead tersebut dalam sebuah buku yang berjudul Mind, Self and Society. Herbert Blumer, teman sejawat Mead, kemudian mengembangkan dan menyebutnya sebagai teori interaksionisme simbolik. Sebuah terminologi yang ingin menggambarkan apa yang dinyatakan oleh Mead bahwa “the most human and humanizing activity that people can engage in—talking to each other.”

 

Esensi Teori

Simbol merupakan esensi dari teori interaksionisme simbolik. Teori ini menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi. Teori Interaksi Simbolik merupakan sebuah kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan manusia lainnya, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana dunia ini, dan bagaimana nantinya simbol tersebut membentuk perilaku manusia. Teori ini juga membentuk sebuah jembatan antara teori yang berfokus pada individu-individu dan teori yang berfokus pada kekuatan sosial.

Ide-ide teori ini nantinya sangat berpengaruh dalam kajian bidang ilmu komunikasi. Banyak peneliti menggunakan teori ini, seperti Gail McGregor (1995) menggunakan teori ini untuk mengkritik penggambaran gender dalam iklan. Patricia Book (1996) mempelajari pengaruh naratif dalam keluarga terhadap kemampuan seseorang untuk berkomunikasi mengenai kematian. Linda Trevino, dkk., mempelajari mengenai pilihan manajer untuk berkomunikasi tatap muka, komunikasi tertulis, dan komunikasi secara elektronik di tempat kerja dengan menggunakan kerangka teori ini. Judy Peterson dan Shannon Van Horn (2004) menemukan bahwa teori interaksi simbolik membingkai perasaan orang dewasa yang lebih tua mengenai identitas gender. Namun beberapa peneliti mengamati bahwa teori interaksi simbolik adalah sebuah komunitas teori (payung), bukan suatu teori yang sederhana.

Ralph LaRosa dan Donald C. Reitzes (dalam West dan Turner, 2009: 96) mencatat tujuh asumsi yang mendasari teori interaksionisme simbolik. Tujuh asumsi tersebut memperlihatkan tiga tema besar, yakni:

  1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia;
  2. Pentingnya konsep mengenai diri;
  3. Hubungan antar individu dan masyarakat.

Teori interaksi simbolik berpegang bahwa individu membentuk makna melalui proses komunikasi karena makna tidak bersifat intrinsik terhadap apapun. Dibutuhkan konstruksi interpretif di antara orang-orang untuk menciptakan makna. Bahkan tujuan dari interaksi adalah untuk menciptakan makna yang sama. Tentang relevansi dan urgensi makna, Blumer (1969) memiliki tiga asumsi interaksi simbolik bahwa: 1) Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka; 2) Makna diciptakan dalam interaksi antarmanusia; 3) Makna dimodifikasikan dalam proses interpretif.

Kisah Henny dan Saiful di atas adalah contoh bagaimana pemaknaan yang berbeda akhirnya melahirkan sikap yang berbeda pula. Interaksi sosial di antara keluarga ini memang berbeda, sehingga berbeda pula dalam pemaknaan. Setting pedesaan yang komunal melahirkan pemaknaan bahwa kebersamaan itu adalah segalanya. Sementara lingkungan perkotaan yang metropolis dan individualis mendorong pemaknaan bahwa hidup harus efektif, praktis dan bercita rasa.

Tema kedua yang menjadi asumsi utama dari interaksi simbolik berfokus pada pentingnya konsep diri (self concept). Konsep ini merujuk pada seperangkat persepsi yang relatif stabil yang dipercaya orang mengenai dirinya sendiri. Tema ini memiliki dua asumsi tambahan. Pertama, individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain. Kedua, konsep diri memberikan motif yang penting untuk perilaku.

Tema yang terakhir teori ini berkaitan dengan hubungan antara kebebasan individu dan batasan sosial. Mead dan Blumer mengambil posisi di tengah untuk pernyataan ini. Mereka mencoba untuk menjelaskan baik mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses sosial. Asumsi-asumsi yang berkaitan dengan tema ini adalah: 1) orang dan kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial; dan 2) struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.

Blumer mengemukakan tiga prinsip dasar interaksionisme simbolik yang berhubungan dengan meaning, language, dan thought. Premis ini kemudian mengarah pada kesimpulan tentang pembentukan diri seseorang (person’s self) dan sosialisasinya dalam komunitas yang lebih besar.

1.      Meaning (makna): Konstruksi Realitas Sosial.

Blumer mengawali teorinya dengan premis bahwa perilaku seseorang terhadap sebuah objek atau orang lain ditentukan oleh makna yang dia pahami tentang objek atau orang tersebut.

2.      Language (Bahasa): Sumber Makna.

Seseorang memperoleh makna atas sesuatu hal melalui interaksi. Sehingga dapat dikatakan bahwa makna adalah hasil interaksi sosial. Makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Bahasa adalah bentuk dari simbol. Oleh karena itu, teori ini kemudian disebut sebagai interaksionisme simbolik.

Berdasarkan makna yang dipahaminya, seseorang kemudian dapat memberi nama yang berguna untuk membedakan suatu objek, sifat atau tindakan dengan objek, sifat atau tindakan lainnya. Dengan demikian premis Blumer yang kedua adalah manusia memiliki kemampuan untuk menamai sesuatu. Simbol, termasuk nama, adalah tanda yang arbiter. Percakapan adalah sebuah media pencitaan makna dan pengembangan wacana. Pemberian nama secara simbolik adalah basis terbentuknya masyarakat. Para interaksionis meyakini bahwa upaya mengetahui sangat tergantung pada proses pemberian nama, sehingga dikatakan bahwa interaksionisme simbolik adalah cara kita belajar menginterpretasikan dunia.

3.      Thought (Pemikiran): Proses pengambilan peran orang lain. Premis ketiga Blumer adalah interpretasi simbol seseorang dimodifikasi oleh proses pemikirannya. Interaksionisme simbolik menjelaskan proses berpikir sebagai inner conversation, Mead menyebut aktivitas ini sebagai minding. Secara sederhana proses ini menjelaskan bahwa seseorang melakukan dialog dengan dirinya sendiri ketika berhadapan dengan sebuah situasi tersebut. Untuk bisa berpikir maka seseorang memerlukan bahasa dan harus mampu untuk berinteraksi secara simbolik. Bahasa adalah software untuk bisa mengaktifkan mind.

Kontribusi terbesar Mead untuk memahami proses berpikir adalah pendapatnya yang menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan yang unik untuk memerankan orang lain (taking the role of the other). Sebagai contoh, pada masa kecilnya, anak-anak sering bermain peran sebagai orang tuanya, berbicara dengan teman imajiner dan secara terus menerus sering menirukan peran-peran orang lain. Pada saat dewasa seseorang akan meneruskan untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain dan bertindak sebagaimana orang itu bertindak. Mengambil orang lain sebagai model untuk ia tiru dalam setiap tindak tanduk keseharian.

Setelah memahami konsep Meaning, language dan thought, maka kita dapat memperkirakan konsep Mead tentang diri (self). Mead menolak anggapan bahwa seseorang bisa megetahui siapa dirinya melalui introspeksi. Ia menyatakan bahwa untuk mengetahui siapa diri kita maka kita harus melukis potret diri kita melalui sapuan kuas yang datang dari proses pengambilan peran (taking the role of the other). Proses ini berusaha membayangkan apa yang dipikirkan orang lain tentang diri kita. Para interaksionis menyebut gambaran mental ini sebagai the looking glass self dan hal itu dikonstruksi secara sosial.

Tanpa pembicaraan tidak aka nada konsep diri, oleh karena itu untuk mengetahui siapa dirinya, seseorang harus menjadi anggota komunitas atau kelompok masyarakat. Merujuk pada pendapat Mead, diri (self) adalah proses mengkombinasikan I dan me. I adalah kekuatan spontan yang tidak dapat diprediksi. Ini adalah bagian dari diri yang tidak terorganisir. Sementara me adalah gambaran diri yang tampak dalam the looking glass self dari reaksi orang lain.

Me tidak pernah dilahirkan. Me hanya dapat dibentuk melalui interaksi simbolik secara terus menerus –melalui dari keluarga, teman bermain, sekolah, dan seterusnya. Oleh karena itulah seseorang membutuhkan komunitas untuk mendapatkan konsep dirinya. Seseorang membutuhkan the generalized others, yaitu berbagai hal (orang, objek, atau peristiwa) yang mengarahkan bagaimana kita berpikir dan berinteraksi dalam komunitas. Me adalah organized community dalam diri seorang individu.

 

Konsep Penting

Ada tiga konsep penting yang dibahas dalam teori interaksi simbolik. Hal ini sesuai dengan hasil pemikiran George H. Mead, yang dibukukan dengan judul Mind, Self and Society. Konsep pertama adalah pikiran (mind). Mead mendefinisikan pikiran sebagai kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama. Mead juga percaya bahwa manusia harus mengembangkan pikiran melalui interaksi dengan orang lain. Bayi tidak akan berinteraksi dengan orang lain sampai ia mempelajari bahasa atau simbol-simbol baik verbal maupun nonverbal yang diatur dalam pola-pola untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaan dan dimiliki bersama. Dengan menggunakan bahasa dan berinteraksi dengan orang lain, kita mengembangkan pikiran. Jadi pikiran dapat digambarkan sebagai cara orang menginternalisasi masyarakat. Akan tetapi pikiran tidak dapat hanya tergantung pada masyarakat.

Terkait dengan konsep pikiran, ada pemikiran (thought), yang merujuk pada percakapan di dalam diri sendiri. Mead berpandangan  bahwa tanpa rangsangan sosial dan interaksi dengan orang lain, orang tidak akan mampu mengadakan pembicaraan dalam dirinya sendiri atau mempertahankan pemikirannya.

Salah satu aktivitas penting yang digunakan orang melalui pemikiran adalah pengambilan peran (role taking), atau kemampuan untuk secara simbolik menempatkan dirinya sendiri dalam diri khayalan dari orang lain. Kapan pun kita selalu berusaha untuk membayangkan bagaimana orang lain mungkin melihat kita, kita sebagai mereka. Kita selalu mengambil peran orang lain dalam diri kita. Pengambilan peran adalah sebuah tindakan simbolis yang dapat membantu menjelaskan perasaan kita mengenai diri dan juga memungkinkan kita untuk mengembangkan kapasitas untuk berempati dengan orang lain.

Konsep penting yang kedua adalah diri (self). Mead mendefinisikan diri sebagai kemampuan untuk merefleksikan diri kita sendiri dari perspektif orang lain. Diri bukan berasal dari intropeksi atau dari pemikiran sendiri yang sederhana. Namun diri berkembang dari sebuah jenis pengambilan peran khusus—maksudnya, membayangkan bagaimana kita dilihat oleh orang lain. Mead menyebut istilah ini sebagai cermin diri (loking-glass self), atau kemampuan kita untuk melihat diri kita sendiri dalam pantulan dari pandangan orang lain.

Mead mengamati bahwa bahasa orang mempunyai kemampuan untuk menjadi subjek dan objek bagi dirinya sendiri. Sebagai subjek, ia bertindak dan sebagai objek kita mengamati diri kita sendiri bertindak. Mead menyebut subjek atau diri yang bertindak sebagai I. sementara objek atau diri yang mengamati adalah Me. I bersifat spontan, impulsif dan kreatif, sedangkan Me lebih reflektif dan peka secara sosial. I mungkin berkeinginan untuk pergi keluar jalan-jalan malam, sementara Me mungkin lebih berhati-hati dan menyadari adanya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Diri adalah sebuah proses yang mengintegrasikan antara I dan Me.

Konsep penting yang ketiga adalah masyarakat (society). Mead berargumen bahwa interaksi mengambil tempat di dalam sebuah struktur sosial yang dinamis—budaya, masyarakat dan sebagainya. Individu-individu lahir dalam konteks sosial yang sudah ada. Mead mendefinisikan masyarakat sebagai jejaring hubungan sosial yang diciptakan manusia. Individu-individu terlibat di dalam masyarakat melalui perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela. Jadi, masyarakat menggambarkan keterhubungan beberapa perangkat perilaku yang terus disesuaikan oleh individu-individu. Masyarakat ada sebelum individu tetapi diciptakan dan dibentuk oleh individu.

Hakikat Penelitian Komunikasi

Materi pertemuan pertama untuk perkuliahan komunikasi.